Politeknik NSC Surabaya selenggarakan Pelatihan Latte Art Ekonomis untuk siswa SMP YPPI 2. Pelatihan ini bertujuan untuk membuka cakrawala kreatif dan wirausaha siswa SMP.

Dalam bayangan banyak orang, seni menggambar di atas secangkir kopi atau latte art, adalah keahlian eksklusif barista berpengalaman di kafe-kafe ternama. Namun, sebuah terobosan inspiratif justru datang dari ruang yang tak terduga: sekelompok siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan semangat belajar tinggi dan kreativitas yang menyala. Pelatihan pembuatan Latte Art ekonomis yang diikuti mereka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler biasa, melainkan sebuah langkah nyata dalam meningkatkan keterampilan praktis dan membuka peluang usaha berbasis kreativitas.

Program pelatihan ini dirancang dengan konsep “from zero to hero”, mengubah materi yang kerap dianggap rumit menjadi sesuatu yang mudah, murah, dan menyenangkan. Menggunakan peralatan sederhana dan bahan-bahan yang terjangkau, seperti susu murni lokal dan bubuk coklat atau matcha sebagai kanvas awal, para siswa diajak untuk memahami dasar-dasar tekstur susu (foaming) dan teknik penuangan (pouring). Fokusnya bukan pada mesin espresso mahal, tetapi pada penguasaan prinsip dasar yang bisa diaplikasikan dengan alat seadanya.

Mengapa Latte Art Penting bagi Generasi Muda?

Pertama, aktivitas ini melatih motorik halus, kesabaran, dan fokus. Setiap gerakan saat menuang susu harus presisi dan terkontrol. Kegagalan pertama, kedua, atau ketiga dalam membentuk daun heart atau rosetta justru menjadi guru terbaik tentang arti proses dan ketekunan.

Kedua, pelatihan ini mengenalkan literasi finansial dan kewirausahaan sejak dini. Para siswa diajak menghitung modal per cup, menentukan harga jual yang kompetitif, dan melihat peluang pasar sederhana di sekitar mereka, seperti acara keluarga, bazar sekolah, atau usaha mikro di lingkungan tempat tinggal. Mereka belajar bahwa kreativitas bisa menjadi komoditas yang bernilai.

Ketiga, ini adalah pelatihan soft skill yang menyelubung. Komunikasi, penyajian (presentation), dan rasa percaya diri tumbuh ketika mereka berhasil menciptakan sebuah karya dan menyajikannya kepada “klien” (guru atau teman). Mereka belajar untuk menerima masukan dan bangga akan pencapaian diri.

Apa yang Terjadi dalam Sesi Pelatihan?

Suasana sesi pelatihan dipadati dengan decakan kagum dan sorak sorai kecil setiap ada yang berhasil. Dimulai dengan teori singkat tentang sejarah kopi dan prinsip membentuk busa susu yang sempurna, para peserta langsung turun ke praktik. Dengan panduan mentor yang sabar, tangan-tangan mungil itu mulai belajar mengatur tekanan steam wand atau mengocok susu panas dengan teknik manual. Tahap demi tahap, dari sekadar membuat titik, kemudian membentuk hati sederhana, hingga akhirnya ada yang berani mencoba bentuk tulip. Kesalahan? Itu bagian dari suasana tawa dan belajar.

Masa Depan yang Berkelanjutan

Semoga ilmu yang dibagikan dalam pelatihan ini tidak berhenti di ruang kelas. Tujuannya adalah keberlanjutan. Diharapkan, minat ini akan berkembang menjadi klub wirausaha muda di sekolah, dimana mereka bisa terus berlatih dan bahkan mulai menerima pesanan untuk acara-acara internal. Beberapa siswa mungkin akan menemukan passion di bidang kuliner dan hospitality, membuka jalan untuk pendidikan yang lebih spesifik di masa depan.

Kegiatan ini membuktikan bahwa keterampilan masa depan tidak selalu berasal dari textbook yang rigid, tetapi seringkali dari eksperimen, keberanian mencoba, dan sentuhan kreativitas. Secangkir latte art hasil karya siswa SMP itu lebih dari sekadar minuman; ia adalah simbol potensi, ketekunan, dan secercah peluang yang menggelegak di tangan generasi penerus bangsa. Mari dukung terobosan-terobosan praktis seperti ini, karena dari sanalah lahir inovator dan wirausawan tangguh di masa depan.