{"id":784,"date":"2013-03-25T09:28:00","date_gmt":"2013-03-25T09:28:00","guid":{"rendered":"http:\/\/politekniknscsurabaya.wordpress.com\/2013\/03\/25\/sejarah-munculnya-pariwisata-part-2"},"modified":"2013-03-25T09:28:00","modified_gmt":"2013-03-25T09:28:00","slug":"sejarah-munculnya-pariwisata-part-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/2013\/03\/25\/sejarah-munculnya-pariwisata-part-2\/","title":{"rendered":"SEJARAH MUNCULNYA PARIWISATA part 2"},"content":{"rendered":"<p>Lanjutan &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<\/p>\n<div style=\"text-align:justify;\">Selanjunya, Abad 17 sampai Abad 20 merupakan era perpindahan dan perjalanan manusia melintasi negara (Internasional) dan benua (intercontinenal). Ini adalah periode migrasi di mana jutaan manusia meninggalkan satu benua untuk bermukim di benua lain (orang Inggris bermukim dan menjadi penduduk Australia dan Amerika, orang China menjadi penduduk Amerika dan sebagainya). Pendatang tersebut membangun tempat tinggal baru dan mulai beradaptasi dengan tempat baru seolah-olah sebagai &#8216;tempat aslinya&#8217;.<\/div>\n<div style=\"text-align:justify;\">Beberapa orang yang telah mencapai tingkat kesejaheraan dan mempunyai waktu luang mulai melakukan perjalanan bukan untuk mencari tempat bermukim baru, tetapi untuk kesenangan dan mengisi waktu luang, atau untuk alasan budaya. Fenomena terakhir inilah yang menjadi<b> potret awal lahirnya pariwisata<\/b>, yang mulai meledak di akhir abad ke-20. Seiring perjalanan sejarah, menurut Theobald (2005:6; MacDonald, 2004:8; dan Wang, 2000:3) motivasi orang bepergian juga bertambah, tidak saja untuk berwisata tetapi juga untuk berdagang (ekonomi), perjalanan religius, perang, migrasi, dan keperluan studi.<\/div>\n<div style=\"text-align:justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align:justify;\">Istilah <i>tour <\/i>telah menjadi perbendaharaan kata dalam Bahasa Inggris sejak berabad-abad lalu, yang artinya adalah perjalanan ke suatu tempat yang mana orang tersebut akan kembali ke titik awal dari mana dia berangkat. Kata <i>tour <\/i>berasal dari Bahasa Latin (Yunani) yang awalnya berarti &#8220;alat untuk membuat lingkaran&#8221;. <i>Journal of Tourism History <\/i>mengklaim bahwa sebuah keluarga di Eropa<i>, de la Tour<\/i>, di tahun 1500-an mempunyai bisnis memberangkatkan orang. Nama keluarga ini kemudian menjadi istilah generik untuk <i>tour\/tourist<\/i> (Leiper, 1983, dalam Leiper, 1990:3). Namun istilah <i>tour <\/i>yang berarti &#8220;perjalanan&#8221; baru secara luas dikenal dan dipakai seelah abad ke-16.<\/div>\n<div style=\"text-align:justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align:justify;\">Beberapa bentuk perjalanan untuk tujuan yang menyenangkan dikonotasikan sebagai <i>tour<\/i>. hal ini sedikit berbeda dengan istilah <i>travel<\/i> yang berasal dari kata <i>travail<\/i> yang secara literal berarti &#8220;sulit&#8221;, menyiksa, menyakitkan&#8217; sebagaimana kalimat &#8216; <i>I was sorely travailed by my long journey&#8217;<\/i>. Memang, sebelum munculnya alat transportasi modern seperti sekarang ini, perjalanan ke tempat yang jauh umumnya sangat menyiksa, sulit, dan menyakitkan. <i>Travel<\/i> merupakan bentuk dari kerja sedangkan <i>tour<\/i> yang kemudian menjadi <i>tourism<\/i> adalah bentuk dari <i>leisure <\/i>(kegiatan di waktu luang saat tidak ada pekerjaan atau mengambil tanggung jawab sehari-hari), namun keduanya tidaklah bersifat eksklusif. <i>Travel<\/i> bisa ditumpangi <i>leisure<\/i>, dan sebaliknya.<\/div>\n<div style=\"text-align:justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align:justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align:justify;\">Bersambung &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lanjutan &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Selanjunya, Abad 17 sampai Abad 20 merupakan era perpindahan dan perjalanan manusia melintasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[43],"tags":[],"class_list":["post-784","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artkel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=784"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/784\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nscpolteksby.ac.id\/dosen\/eko-tjiptojuwono\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}