Berita

Menjadi Manusia Pembelajar

Menjadi Manusia Pembelajar

Manusia terlahir sebagai makhluk hidup dengan keingintahuan yang sangat besar.  Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan untuk mempelajari sesuatu, bahkan dalam waktu yang relatif singkat manusia dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Namun demikian, meskipun potensi manusia untuk belajar sangat luar biasa, sebagian besar orang ternyata tidak mampu memaksimalkan potensi tersebut. 

Manusia terkadang kehilangan semangat belajarnya setelah menyelesaikan pendidikannya. Manusia yang tidak meng-update ilmu pengetahuannya setelah menyelesaikan pendidikannya, biasanya akan kesulitan menghadapi tantangan baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya dan akan mudah putus asa karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi kekinian.

Oleh karena itu, manusia yang baik adalah manusia yang pembelajar, yaitu manusia yang senantiasa bersemangat untuk mempelajari berbagai hal dalam kehidupan ini, tidak hanya ketika masih berada di bangku sekolah, namun juga setelah tamat, hingga akhir hayatnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Dr. Abuya Sayyid Maliki Al Hasani kepada para santrinya, ketika menyelesaikan pendidikannya adalah “Mazilta Tholiban” (selamanya engkau adalah santri/murid), di mana seorang santri/murid harus senantiasa belajar hingga akhir hayatnya (Red. Penulis). 

Manusia pembelajar adalah manusia yang memandang kegiatan belajar sebagai cara hidup dan cara beradanya.  Seorang pembelajar (Antonio, 2012:21) adalah seorang yang berupaya untuk memperluas pemahaman  dan kesadaran dirinya tentang hakikat dirinya sendiri (Self-awareness), dunia sekitar (Cosmo-awareness), kesadaran tentang Sang Pencipta (Teo-awareness), dan relasi antara ketiganya (Relationship-awareness) ke tingkat yang lebih dalam dan lebih tinggi. 

Dalam konteks ini, dapat disimpulkan bahwa belajar bagi manusia pembelajar adalah aktivitas yang bersifat menyeluruh (integralistik) yang tidak bisa dijalankan secara parsial dan terpisah, di mana setiap disiplin ilmu memiliki kaitan dengan disiplin ilmu yang lainnya, dan suatu peristiwa pasti memiliki mata rantai dengan peristiwa yang lain.  Manusia pembelajar ketika terjadi peristiwa atas dirinya (misalnya dalam bentuk ujian atau musibah) senantiasa mendahulukan introspeksi diri.

Sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW ketika beberapa langkah meninggalkan rumahnya, beliau terantuk batu yang mengakibatkan tali terompahnya terputus. Peristiwa sederhana ini membuatnya tertegun dan merenung, “Kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga Allah SWT memperingatkanku dengan putusnya tali terompah ini?” Kejadian ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah sungguh-sungguh seorang manusia pembelajar. Beliau tidak serta-merta menaruh curiga dan menyalahkan seseorang telah menaruh batu di jalanan, namun terlebih dahulu melihat ke dalam diri sendiri, dan mengaitkan peristiwa tersebut dengan peristiwa yang lain (Antonio, 2007; 2012).

Mendasarkan pada uraian di atas, serta memperhatikan berbagai kondisi perubahan yang cepat dan faktor persaingan yang tinggi, maka Politeknik NSC Surabaya sebagai institusi pendidikan juga harus berkembang sebagai organisasi pembelajar (learning organization), sebagaimana ditetapkan dalam “Budaya Kerja dan Nilai-Nilai Politeknik”, salah satu diantaranya adalah “STUDIOUS”.  Studious adalah membangun budaya usaha yang giat, bekerja keras, dan terus belajar untuk membenahi dan memperbaiki diri, agar mampu bersaing dan terus exist di dunia pendidikan.

Menjadi Manusia Pembelajar Menjadi Manusia Pembelajar

Budaya kerja dan nilai budaya yang dibangun di Politeknik tersebut sejalan dengan pendapat beberapa ahli (Senge, 1990; Dale, 2003; Muhaimin dkk, 2010) yang mendefinisikan organisasi pembelajar sebagai sebuah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari seluruh anggotanya dan secara terus-menerus untuk dapat mentransformasi diri, di mana organisasi pembelajar adalah organisasi yang:

  1. Mempunyai suasana di mana anggota-anggotanya secara individu terdorong untuk belajar dan mengembangkan potensi penuh mereka;
  2. Memperluas budaya belajar ini sampai pada pelanggan dan stakeholder lain yang signifikan;
  3. Menjadikan strategi pengembangan sumber daya manusia sebagai pusat kebijakan bisnis;
  4. Berada dalam transformasi organisasi  secara terus-menerus, di mana tujuan transformasi sebagai aktivitas sentral agar organisasi mampu mencari ide-ide baru secara luas, masalah-masalah baru dan peluang-peluang baru untuk pembelajaran, dan mampu memanfaatkan keunggulan kompetitif yang dimilikinya.

Dengan demikian, dalam organisasi pembelajar, setiap individu didorong untuk dapat memanfaatkan seluruh kemampuan dan kecerdasannya untuk menyikapi tantangan yang sering kali rumit dan penuh kemungkinan (ambiguitas).

Menjadi Manusia Pembelajar Menjadi Manusia Pembelajar

Antonio, M. Syafii.2012. Sang Pembelajar dan Guru Peradaban: Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager”.Jakarta: Tazkia Publishing.

Antonio, M. Syafii.2007. Teladan Sukses dalam Hidup & Bisnis: Muhammad SAW The Super Leader Super Manager.Jakarta: Tazkia Multimedia & ProLM Center.

Dale, M.2003. Developing Management Skill.Terjemahan.Jakarta: PT Gramedia.

Muhaimin, Suti’ah, dan Sugeng Listyo Prabowo.2010.Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah.Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Sange, Peter M.1990. The Fifth Dicipline: The Art and Practice of The Learning Organization.New York: Doubleday.

 

Author : Siti Mahmudah

 


Komentar


Lowongan Kerja:

Politeknik NSC Surabaya


Anda pengunjung ke : 33,834,120

Daftar

Hubungi Kami
  • Facebook
  • Twitter
  • Youtube
  • Google+
  • WhatsApp