Berita

MENERAPKAN NILAI-NILAI SPIRITUAL DALAM BERBISNIS

Oleh: Siti Mahmudah

Perkembangan ekonomi di era global yang semakin pesat merupakan tantangan berat yang dihadapi oleh para pelaku bisnis, di mana persaingan yang ada tidak lagi antarpebisnis lokal melainkan persaingan antarnegara.  Oleh karenanya, para pelaku bisnis mau tidak mau harus mempersiapkan diri dengan baik agar tetap bertahan dan sukses dalam menjalankan bisnisnya, salah satunya adalah dengan menerapkan nilai-nilai spiritual dalam operasional bisnis yang dijalankannya.

Sejarah telah membuktikan bahwa pebisnis yang menerapkan nilai-nilai spiritual dalam operasional bisnisnya terbukti mampu bertahan dan berkembang secara baik (quantumbioenergi.com). Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan bisnisnya, di mana profesionalisme Nabi Muhammad SAW dalam berbisnis melekat erat dengan karakter yang ada pada diri beliau (Antonio, 2007).  Dalam konteks bisnis, karakter tersebut menjadi dasar dalam setiap aktivitas bisnis yang kemudian menjadi sikap dasar manusiawi (fundamental human ethics) yang mendukung keberhasilan.

Berikut diagram yang menggambarkan ruang lingkup karakter dasar Nabi Muhammad SAW yang dikaitkan dengan aktivitas bisnisnya:

Karakter dasar Nabi Muhammad SAW
Gambar 1.KARAKTER DASAR NABI MUHAMMAD SAW

Berdasarkan diagram tersebut, dapat dijabarkan nilai-nilai spiritual yang dapat kita teladani untuk diterapkan dalam menjalankan aktivitas bisnis, yaitu:

1. Shiddiq.  Shiddiq berarti “jujur atau benar”. Dalam manajemen pemasaran modern karakter shiddiq sangat menentukan terciptanya layanan informasi secara benar.  Dengan karakter shiddiq, hak atau kepentingan pelanggan tetap terpenuhi.  Nilai-nilai kejujuran dalam berbisnis, diantaranya:

  1. Tidak mengingkari janji yang telah disepakati.  Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Hadist Riwayat Ahmad Nomor 22809: Dari Ubadah bin Samit, Nabi bersabda, “Berikanlah kepadaku enam jaminan dari diri kamu, maka aku menjamin untuk kamu: (1) berlaku benar saat bicara, (2) tepatilah jika kamu berjanji, (3) tunaikanlah amanah, (4) pejamkanlah mata kamu dari yang dilarang, (5) peliharalah kemaluanmu, dan (6) tahanlah tangan kamu (dari menyakiti atau mengambil hak orang lain).
  2. Tidak menyembunyikan cacat atas sesuatu yang ditransaksikan.  Sebagimana disabdakan oleh Rasulullah SAW bahwa, “Tidak halal bagi sesorang untuk menjual sesuatu, melainkan dia harus menerangkan kekurangan yang ada pada sesuatu itu” (H.R. Ibnu Majah, No. 2246).
  3. Tidak mengelabui harga pasar.  Dalam berbisnis kita dilarang untuk menyembunyikan harga pasar karena ketidaktahuan penjual, sehingga penjual menjual harganya dengan harga murah di bawah harga pasar.  Apabila hal ini terjadi, maka penjual memilik hak untuk menuntut balik atau membatalkan transaksi jual-beli.

Ketiga nilai kejujuran tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Nilai-nilai spiritual shiddiq
Gambar 2.NILAI-NILAI SPIRITUAL SHIDDIQ (KEJUJURAN)

 

2. Amanah.  Amanah berarti “dapat dipercaya”.  Dalam konteks ini, nilai-nilai amanah yang harus diterapkan adalah:

  1. Tidak mengurangi dari yang seharusnya yang telah disetujui.
  2. Tidak menambah sesuatu dari yang seharusnya atau dari yang telah disepakati.
  3. Memberikan sesuai dengan yang dijanjikan.

Ketiga nilai amanah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Nilai-nilai spiritual Amanah
Gambar 3.NILAI-NILAI SPIRITUAL AMANAH

Dalam dunia marketing, nilai-nilai amanah sama penting kedudukannya dengan nilai-nilai shiddiq.Bagi perusahaan, pebisnis, dan pekerja/pegawai sifat amanah akan membawa keuntungan besar, sebab ketika mitra bisnis atau para pelanggan memutuskan untuk bertransaksi bisnis, maka mereka menganggap bahwa perusahaan, pebisnis, atau pekerja/pegawai tersebut dapat dipercaya (amanah).Selain itu, sehebat apa pun strategi bauran pemasaran (marketing mix) yang bertumpu pada “4P” atau “7P” (product, price, place, promotion, people, process, physical evidence/environment) dan “4C” (commodity, customer, competition, dan change) ditempuh, misalnya (Tjiptono, 2005), maka tidak akan membuahkan sukses tanpa disertai dengan adanya nilai-nilai amanah.Dengan demikian maka bersikap amanah mutlak diterapkan dalam setiap transaksi bisnis atau muamalah, sehingga kita dapat terhindar dari berbagai perilaku yang menyalahi aturan syariat.Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah beriman orang yang tidak memegang amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji’ (H.R. At Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir, No. 7899).

 

3. Fathonah.  Fathonah berarti “cakap atau cerdas”.  Pebisnis yang cerdas mampu memahami peran dan tanggung jawab bisnisnya dengan baik, mampu menunjukkan krativitas dan inovasi, serta mampu memberikan sentuhan nilai yang efektif dan efisien dalam melakukan kegiatan pemasaran.  Dalam transaksi bisnis/muamalah, nilai-nilai yang dijiwai dengan karakter fathonah adalah:

  1. Mengadministrasikan dokumen transaksi.  Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah: 282): “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar…… Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi”.
  2. Menjaga profesionalisme dan kualitas pelayanan.  Dalam bertransaksi bisnis, pelaku bisnis harus senantiasa menerapkan profesionalisme, sebagaimana hadis Nabi SAW, bahwa “Sesungguhnya Allah sangat menyukai seorang hamba yang melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin” (H.R. Al Baihaqi dalam Syua’bul Iman, No. 5080, 5081, 5082).
  3. Kreatif dan inovatif.  Kreatif dan inovatif merupakan hal yang senantiasa harus dibangun dalam bisnis, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa menemukan sesuatu yang baru, maka baginya pahala atas penemuan itu dan pahala bagi orang yang mengamalkannya” (H.R. Muslim, No. 6975).
  4. Mengantisipasi perubahan yang terjadi di pasar, baik yang berhubungan dengan produk, teknologi, harga, maupun persaingan. Kecakapan lain yang melekat pada karakter fathonah adalah antisipatif. Antisipatif berarti selalu waspada akan berbagai gejolak pasar, baik yang berhubungan dengan vendor, kelancaran suplai bahan baku, adanya barang substitusi yang ditawarkan pasar, maupun adanya inovasi teknologi baru.

Keempat nilai fathonah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Nilai-nilai spiritual Fathonah
Gambar 4.NILAI-NILAI SPIRITUAL FATHONAH

 

4. Tabligh. Tabligh secara bahasa dapat diartikan dengan “menyampaikan”.  Pemahaman tabligh dalam konteks bisnis bisa mencakup argumentasi dan komunikasi. Pengusaha atau pelaku bisnis hendaknya mampu mengomunikasikan produknya dengan strategi yang tepat.  Artinya, tepat dalam memilih media promosi, tepat dalam membidik segmentasi pasar, tepat dalam menentukan target daya beli (high-end, midle, atau midle low), tepat dalam memberikan bulan diskon, tepat dalam menentukan biro iklan atau model yang akan menjadi brand ambassador produk.

Dengan sifat tabligh, seorang pebisnis diharapkan mampu menyampaikan keunggulan-keunggulan produk dengan menarik dan tepat sasaran tanpa meninggalkan kejujuran dan kebenaran (transparency and fairness).Dengan demikian, pelanggan dapat dengan mudah memahami pesan bisnis yang disampaikan.

 

Berdasarkan nilai-nilai spiritual yang telah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW melalui empat karakter tersebut, hendaknya bisa menjadi pedoman kita semua dalam menjalankan aktivitas bisnis.Dengan demikian bisnis yang kita jalankan bersifat adil (tidak ada yang teraniaya), transparan (tidak ada yang berburuk sangka), dan saling menyukseskan (Kartajaya, 2006), serta mendapatkan keberhasilan paripurna atas ridlo dan karunia Allah SWT.

 

Referensi :

  • Antonio, M. Syafii.2012. Business & Kewirausahaan: Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW “The Super Leader Super Manager”.Jakarta: Tazkia Publishing.
  • Antonio, M. Syafii.2007. Teladan Sukses dalam Hidup & Bisnis: Muhammad SAW The Super Leader Super Manager.Jakarta: Tazkia Multimedia & ProLM Center.
  • El-Qurtuby, Usman. 2018.Al-Quran Hafalan. Bandung: Cordoba.
  • Kartajaya, Hermawan. 2006. Aa Gym: A Spiritual Marketer. Jakarta: MarkPlus&Co.
  • Membuat Rencana Bisnis dengan Pendekatan Spiritual: Apakah Perlu?  Diakses pada hari Jumat, 31 Mei 2019. Pukul 13.00 WIB.
  • Tjiptono, Fandy.2005. Pemasaran Jasa. Malang: Bayu Media Publishing.

 

 


Komentar


Lowongan Kerja:

Politeknik NSC Surabaya


Anda pengunjung ke : 33,729,436

Daftar

Hubungi Kami
  • Facebook
  • Twitter
  • Youtube
  • Google+
  • WhatsApp