Berita

Orasi Ilmiah Pada Wisuda XV: Peluang Dan Tantangan Pendidikan Vokasi Di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama saya ingin mengajak kita semua memanjatkan puji dan syukur kahdrat Allah SWT atas limpahan Rahmat dan Taufiq-Nya kepada kita sekalian, sehingga pada hari ini kita semua masih diperkenankan mengikuti acara yang amat penting dan bersejarah ini, khususnya bagi para wisudawan beserta para orang tua. Semoga Tuhan yang maha kuasa senantiasa mencurahkan ridhonya, sehingga ilmu yang telah diperoleh para wisudawan menjadi ilmu yang bermanfaat dan berberkah. Amin.

Hadirin dan Udangan yang kami hormati.
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa di penghujung tahun 2015 lalu sebuah tonggak sejarah baru dipancangkan oleh segenap pemimpin negara-negara di kawasan Asia Tenggara yaitu penyatuan ekonomi kawasan yang dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN atau disingkat dengan MEA. Pembentukan MEA akan ditransformasikan menjadi sebuah pasar tunggal dan basis produksi. Ini berarti bahwa dengan terwujudnya masyarakat ekonomi ASEAN, maka terbentuklah potensi ekonomi yang sangat besar, baik dari sisi pasar maupun pada sisi produksi. Dengan demikian, aktivitas ekonomi kawasan akan sangat bergairah, investasi akan meningkat tajam, lapangan kerja terbuka sangat lebar,  dan tentu akan diikuti dengan pertumbuhan ekonomi kawasan yang melaju.

MEA mengandung lima elemen inti, yakni (1) pergerakan bebas barang, (2) pergerakan bebas jasa, (3) pergerakan bebas investasi, (4) pergerakan bebas modal, dan (5) pergerakan bebas tenaga terampil. Dalam masyarakat ekonomi ASEAN, batas-batas negara tinggal sebagai batas wilayah teritorial negara semata, namun arus barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja melintas bebas antar negara seolah tanpa hambatan sama sekali. Pengusaha Indonesia bebas berinvestasi di seluruh kawasan ASEAN, begitu pula sebaliknya. Produk negeri lain bebas masuk ke Indonesia, begitu pula sebaliknya. Dan tentu saja, tenaga kerja kita bebas mencari pekerjaan di negara lain di Asia Tenggara. Sebaliknya juga demikian, para pekerja dari negara lain begitu babasnya mengisi lowongan kerja yang ada di Indonesia.

Hadirin dan Undangan yang berbahagia
Kesepakatan percepatan implementasi MEA dipandang oleh banyak pihak sebagai peluang. Pandangan optimistis ini didasarkan pada tersedianya lapangan kerja yang demikian luas. Para pencari kerja memungkinkan dapat mengisi lowongan yang tersedia di seluruh kawasan ASEAN tanpa hambatan. Tidak terbatas hanya di Indonesia saja seperti selama ini. Namun, tidak sedikit pihak yang lain menilainya sebagai sebuah ancaman. Umumnya para pihak yang memandangnya sebagai ancaman adalah pihak yang skeptif dengan kondisi ketenaga-kerjaan kita saat ini. Pandangan pesimistis tersebut muncul dari ketidak-percayaan terhadap kualitas lulusan perguruan tinggi. Kita memang perlu waspada. Terutama karena liberalisasi sektor ketenaga kerjaan sebagai bagian dari skenario MEA terbatas pada tenaga kerja terampil dan terdidik. Tenaga kerja yang tergolong papan atas dan professional, seperti dokter, lowyer, akuntan, insinyur, nurs, dan sebagainya. Padahal, kekuatan Indonesia justru pada tenaga-tenaga kerja sektor informal.
Hadirin dan Undangan yang berbahagia,
Salah satu kesepakatan penting pemimpin negara-negara ASEAN dalam rangka MEA adalah terwujudnya ASEAN Mutual Recognition Arrangement (ASEAN MRA). Kesepakatan ini bertujuan untuk menciptakan prosedur dan mekanisme akreditasi untuk mencapai kesamaan atau kesetaraan serta mengakui perbedaan negara dalam hal pendidikan dan latihan, pengalaman, serta persyaratan lisensi untuk praktek profesi. Ketentuan MRA inilah yang sangat berimplikasi terhadap pendidikan tinggi di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.
    
Salah satu implikasi dari ASEAN MRA adalah ditetapkannya standar kompetensi untuk tenaga-tenaga kerja terampil profesional yang bisa memenuhi peluang-peluang kerja di kawasan ASEAN. Hal ini berarti bahwa semua sektor yang sudah disepakati dalam MRA sudah harus menerapkan standar kompetensi untuk bisa memenuhi peluang kerja di kawasan ASEAN. Saat ini ada beberapa profesi yang sudah tercakup dalam kesepakatan MRA, yakni; tenaga kesehatan, insinyur, jasa lowyer, jasa akuntan, jasa pariwisata, dan arsitektur. Cakupan profesi ini akan terus diperluas menyusul implementasi kesepakatan MEA.

Meskipun dinilai agak terlambat, pemerintah sesungguhnya telah merespon kesepakatan MRA ini dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan, pelatihan kerja, dan pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor.

Di dunia pendidikan tinggi, pengaturan tentang implementasi KKNI dipertegas dalam UU Nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 73 tahun 2013 tentang Penerapan KKNI bidang Perguruan Tinggi. Dalam permendikbud tersebut, terdapat sembilan level kompetensi yang dicakup dalam KKNI dimana mulai dari level kompetensi 3 (tiga) sampai dengan level 9 (Sembilan) diselenggarakan pada perguruan tinggi, baik berbentuk penddikan akademik, profesi, maupun vokasional.

Sidang senat dan para wisudawan yang berbahagia
Sejak tahun 2009, pemerintah telah menyadari bahwa kondisi demografis dan kondisi industri Indonesia yang relatif bersifat padat karya membutuhkan penguatan pendidikan di bidang vokasi. Bahkan sudah dicanangkan bahwa pada tahun 2016, jumlah pendidikan vokasi pada tingkat sekolah menengah (SMK) ditargetkan mencapai 70% dari seluruh sekolah menengah. Atau hanya  sekira 30% SLTA berbentuk SMA. Apabila skenario pemerintah terkait proporsi pendidikan kejuruan tersebut terwujud, maka tentu saja merupakan peluang besar bagi pendidikan tinggi vokasi, seperti halnya Politeknik NSC ini, karena kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan dalam kerangka MEA merupakan tenaga kerja trampil yang siap kerja seperti lulusan diploma. Apalagi jika memperhatikan data pengangguran berdasarkan tingkat pendidikan yang dirilis oleh BPS pada tahun 2015 lalu, menunjukkan bahwa jumlah penganggur terbesar adalah lulusan SMK yakni mencapai angka 12,65% dari 7,56 juta jiwa jumlah pengangguran terbuka atau mencapai sekira 920 ribu orang. Hal ini menunjukkan, bahwa lulusan sekolah kejuruan masih sangat perlu melanjutkan pendidikan pada tingkat pendidikan diploma.

Keunggulan pendidikan vokasi juga diakui oleh Ketua Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia, Hotma Prawoto Sulistyadi yang menyatakan bahwa umumnya lulusan vokasi dari 50 universitas ternama di tanah air, 90% terserap di lapangan pekerjaan. Hanya waktu tunggu yang berbeda antara 1,5 sampai 3 bulan. Bahkan beliau mengatakan bahwa lulusan pendidikan vokasi lebih siap hadapi MEA dibanding lulusan sarjana (republika.co.id, tanggal 20 Mei 2015)

Sidang Senat, wisudawan, dan hadirin yang kami hormati
Selain keunggulan dan peluang-peluang tersebut, pendidikan vokasi juga menghadapi berbagai tantangan terutama dalam rangka mempersiapkan lulusan untuk bersaing dengan tenaga kerja asing yang diprediksi akan ikut meramaikan bursa pasar kerja di dalam negeri. Terlebih tentunya apabila lulusan kita akan bersaing di bursa kerja yang ada di kawasan ASEAN.
Tantangan pertama adalah menyangkut kesetaraan kompetensi. Pendidikan vokasi perlu merumuskan dan menerapkan kurikulum yang disetarakan dengan KKNI. Rumusan capaian pembelajaran yang meliputi pengetahuan, keterampilan umum dan khusus, serta sikap kerja harus jelas dan sesuai dengan kualifikasi kompetensi yang disyaratkan pada setiap level pendidikan. Disamping itu, kemampuan berbahasa asing serta penguasaan teknologi informasi merupakan keharusan. Termasuk kemampuan membangun hubungan dengan orang lain, empati, berintegritas, kreatif, inovatif, serta menjadi seorang pemain tim yang hebat.

Untuk membentuk lulusan yang memiliki kapasitas yang demikian dibutuhkan metode dan proses pembelajaran yang lebih berorientasi praksis. Dengan demikian, maka dibutuhkan waktu dan sarana bagi para mahasiswa untuk lebih banyak mengimplementasikan ilmu dan keterampilannya di dunia nyata. Untuk itulah, maka tantangan pendidikan vokasi selanjutnya adalah perlunya membangun jaringan kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri, baik dalam rangka praktek kerja, pemagangan, maupun rekrutmen calon karyawan.

Kemitraan dengan dunia usaha dan dunia kerja tidak semata-mata diperlukan dalam rangka penempatan mahasiswa dan alumni, namun juga sangat diperlukan untuk memantau kesesuaian antara kompetensi yang dicanangkan dalam kurikulum dengan kualifikasi kompetensi yang disyaratkan industri dari waktu ke waktu. Dengan demikian, maka kurikulum pendidikan senantiasa selaras dengan kebutuhan industri.

Tantangan lain yang dihadapi saat ini dan kedepan adalah sudah diterapkannya standarisasi kompetensi beberapa jenis profesi. Standarisasi ini ditunjukkan melalui sertifikasi profesi. Setiap lulusan pendidikan vokasi sejatinya juga dinyatakan lulus ujian sertifikasi profesi. Untuk itulah, maka muatan pembelajaran untuk unit-unit kompetensi tertentu perlu disesuaikan dengan standar kompetensi profesi. Sertifikasi profesi inilah yang digunakan untuk menyetarakan kompetensi profesi dalam kerangka MEA. Artinya, selain ijazah, seorang lulusan pendidikan vokasi sebaiknya juga memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidangnya masing-masing.

Wisudawan dan Sidang Senat yang berbahagia
Akhirnya kami ingin menyampaikan selamat kepada para wisudawan dan keluarga. Hari ini merupakan hari yang amat penting dan bersejarah bagi anda sekeluarga. Sebentar lagi anda akan terjuan ke dunia kerja yang ril, yang tentu saja tantangannya lebih besar. Persaingannya sangat ketat. Untuk itulah, kami ingin mengingatkan bahwa wisuda itu bukanlah akhir dari proses pendidikan, tetapi justru merupakan awal untuk mempertanggungjawabkan ilmu dan keterampilan yang dimiliki di dunia kerja. Selamat berkompetisi semoga anda semua sukses. Amin.
Sekian dan terimakasih.

Wassalamu alaikum WR.WB.

mulham

Dr. Muliyadi Hamid, SE. M.Si

REFERENSI :
Badan Pusat Statistik, Indonesia dalam angka, tahun 2015
Dodi Mantra; Hegemoni & Diskursus Neoliberlisme; Menelusuri Langkah Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015; Mantra Press; 2011.
Hotma Prawoto Sulistyadi, “Peluang dan Tantangan Pendidikan Vokasi Indonesia”, republika.com, 2015 (diakses tgl 28/09/2016)
Kementerian Perdagangan; “Menjadi Pemenang pada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, bahan sosialisasi
Warta Ekspor; Kementerian Perdagangan, Ditjen/WRT/04/I/2015 Edisi Januari
UU RI Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2002 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan RI Nomor 37 tahun 2013 tentang Penerapan KKNI di Perguruan Tinggi

 

 


Komentar


Lowongan Kerja:

Politeknik NSC Surabaya


Anda pengunjung ke : 33,167,713

Daftar

Hubungi Kami
  • Facebook
  • Twitter
  • Youtube
  • Google+
  • WhatsApp