Berita

PENDIDIKAN VOKASI ITU LEBIH BAIK

Dalam era globalisasi dan menyambut era Asian Economic Community, telah menjadi kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menyiapkan diri agar mampu berperan serta aktif dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam hal knowledge, skill, dan attitude harus dilakukan dengan seefektif dan seefisien mungkin agar kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak kalah dengan sumber daya manusia dari negara lain, utamanya dari negara-negara di Asia. Perhatian dan dukungan dari semua unsur masyarakat dan pemerintah dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia ini sangat dibutuhkan dan harus terkoordinasi dengan baik.
Pemerintah memiliki peranan yang sangat penting dalam menstimulasi aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Begitu pula kontribusi yang besar sangat diharapkan dari lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, lembaga-lembaga pelatihan kerja, dan sejenisnya. Kerjasama yang baik antara pemerintah dengan seluruh stake holder pendidikan akan menghasilkan dampak yang optimal.
Perguruan tinggi sebagai suatu lembaga pendidikan formal tertinggi di bidang akademik dan vokasi diharapkan dapat memberikan perhatian dan kontribusi paling besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki knowledge, skill, dan attitude yang dibutuhkan. Dengan adanya aktivitas tri darma perguruan tinggi yang terdiri dari pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, diharapkan dapat memberikan gambaran proses yang baik dalam menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas. Dapat dikatakan demikian jika seluruh perguruan tinggi di Indonesia, baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta, memiliki komitmen yang tinggi dalam menjalankan proses tri darmanya dengan baik dan benar sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan.
Namun fenomena yang terjadi di masyarakat justru terlihat bahwa banyak lulusan-lulusan perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena knowledge, skill, dan attitude yang dimilikinya tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan-perusahaan di dalam negeri, belum lagi jika dilihat dari sangat kecilnya peluang lulusan-lulusan tersebut untuk bekerja pada perusahaan-perusahaan di luar negeri. Banyak lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi, yang belum tanggap dengan fenomena ini karena disibukkan dengan proses, tanpa memperhatikan bagaimana output lulusannya dalam berjuang memperoleh pekerjaan.
Fenomena lain yang terjadi yaitu lulusan-lulusan perguruan tinggi yang telah memperoleh pekerjaan justru bekerja pada bidang-bidang yang tidak sesuai dengan jurusan yang diambil pada waktu kuliah, bahkan sebagian mengatakan bahwa materi kuliah yang diajarkan di kampus tidak dapat diterapkan dalam pekerjaan mereka. Hal ini pula yang dikeluhkan oleh perusahaan-perusahaan pengguna lulusan-lusan perguruan tinggi.
Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut maka sivitas akademika perguruan tinggi diharapkan untuk mempelajari lebih dalam mengenai bagaimana strategi untuk melakukan pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Strategi pengembangan sumber daya manusia yang didasarkan pada research dan aplikasi, nantinya bisa menjadi sumbangan yang besar bagi masyarakat dan pemerintah.
Diharapkan pula dapat dilakukan kajian-kajian yang lebih mendalam dan lebih aplikatif dalam usaha untuk mencari solusi-solusi yang berguna bagi pemerintah dan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Tentunya peranan lembaga-lembaga pendidikan sebagai sarana pembentukan dan pengembangan sumber daya manusia perlu diteliti lebih jauh. Seberapa besar kontribusi masing-masing lembaga pendidikan dalam mendidik dan menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas dan bagaimana perhatian dan peranan lembaga-lembaga pendidikan tersebut dalam memfasilitasi lulusan-lusannya dalam memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang diinginkannya.
Beberapa penelitian perlu dilakukan untuk mengetahui dan mengukur peranan dari lembaga-lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi, mengetahui dan mengukur tingkat kesesuaian kualitas lulusan-lulusan perguruan tinggi dengan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri, mengetahui dan mengukur keterlibatan dunia usaha dan industri, mengetahui dan membandingkan kualitas lulusan-lulusan perguruan tinggi di dalam negeri dengan lulusan-lulusan perguruan tinggi di luar negeri, khususnya di wilayah Asia.
Selain itu perlu diteliti pula tentang fenomena perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia yang sebagian besar menyelenggarakan proses pendidikan akademik dibandingkan dengan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi. Telah dipahami bahwa proses pendidikan pada perguruan tinggi  yang menyelenggarakan pendidikan akademik lebih memfokuskan proses pendidikannya untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki knowledge yang tinggi dibandingkan skill, belum lagi kurangnya proses pembentukan atitude-nya. Dapat dibayangkan betapa besarnya jumlah lulusan-lulusan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik ini, yang dapat dikatakan mereka memiliki konwledge yang tinggi namun tidak memiliki skill dan attitude yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri.
Lain halnya dengan lulusan-lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi, dimana mereka menyelenggarakan proses pembelajarannya dengan tujuan untuk menyiapkan lulusn-lulusannya untuk siap kerja dengan cara memperbesar komposisi praktek lebih besar dari pada teori, sehingga lulusan-lulusan perguruan tinggi vokasi ini dapat dikatakan memiliki skill yang lebih baik dibandingkan lulusan-lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik. Perguruan tinggi vokasi juga memiliki program-progam pemagangan yang cukup lama dan intens pada dunia usaha dan industri sehingga dapat membantu proses pembentukan attitude mahasiswanya. Jadi perbedaan jelas antara lulusan-lulusan perguruan tinggi akademik dan perguruan tinggi vokasi yaitu pada tingkat knowledge, skill, dan attitudenya.
Di sisi lain, banyak masyarakat yang belum mengetahui perbedaan antara pendidikan akademik dan pendidikan vokasi sehingga pengambilan keputusan untuk memilih perguruan tinggi tidak didasarkan pada tujuan yang benar. Mereka masih beranggapan bahwa kuliah itu untuk menjadi sarjana, dan jika sudah menjadi sarjana akan mudah mendapatkan pekerjaan. Hal ini menarik untuk diteliti, dan dilakukan upaya terus menerus untuk mensosialisasikan tentang pendidikan akademik dan pendidikan vokasi kepada masyarakat.

eko

Eko Tjiptojuwono, SE, MM

Direktur

 


Komentar


Lowongan Kerja:

Politeknik NSC Surabaya


Anda pengunjung ke : 33,106,268

Daftar

Hubungi Kami
  • Facebook
  • Twitter
  • Youtube
  • Google+
  • WhatsApp